Derek Paravicini yang lahir pada 26
Juli 1979 sungguh tak beruntung. Ia lahir sangat prematur, hanya 25 minggu
dalam kandungan (umumnya manusia dikandung 36-40 minggu). Apa yang terjadi
dengan kondisi seperti itu?
Karena lahir prematur ia harus
ditolong dengan terapi oksigen melalui Neonatal Intensive Care Unit (NICU)
sejak kelahirannya. Dokter di Royal Berkshire Hospital yang menanganinya agak
pesimistis Derek akan berumur panjang. Dari catatan sejarah, bayi-bayi yang
lahir prematur 14 minggu, selalu meninggal. Selain itu, dua kakak kembar Derek
juga meninggal saat dilahirkan. Jadi peluang hidup Derek sebenarnya kecil.
Namun ternyata Derek bisa hidup
meski tidak normal. Ketidaknormalan yang dialaminya adalah buta karena saat
ditangani di NICU otaknya kekurangan oksigen. Ia juga mengalami kesulitan
belajar yang parah. Selain itu ia juga autis.
Lalu apa yang terjadi kemudian?
Orangtuanya menemukan bakat luar biasa dari Derek. Saat usianya dua tahun ia
sudah tertarik pada piano. Ternyata ia bisa menangkap nada hanya dengan sekali
dengar. Karena itu orangtuanya kemudian mendaftarkan dia untuk belajar piano
dari pemain piano Adam Ockelford, London. Hari pertama saja sudah mengejutkan
Adam. Ketika tiba di tempat les piano milik Adam, Derek langsung berlari
mencari asal suara piano. Tentu saja orangtuanya harus membimbingnya karena ia
buta. Begitu sampai di piano, ia bahkan menyingkirkan Adam dari depan piano
untuk kemudian ia ambil-alih. Adam terkejut karena ia bisa menirukan nada-nada
yang dimintanya.

Mengajar piano pada orang buta tentu
akan mengalami kesulitan tersendiri. Apalagi dengan kondisi seperti Derek.
Derek tak bisa membaca huruf Braille dan mengalami kesulitan belajar yang
parah. Tetapi ia ternyata salah satu dari sekian banyak orang yang mengidap autistic
savant, yaitu sejenis autis yang kerap orang yang menderitanya memiliki
kemampuan luar biasa di atas manusia normal. Kemampuan yang dimiliki Derek
adalah mampu meniru nada dengan hanya sekali dengar. Karena itu ketika
diperdengarkan satu lagu, ia bisa memainkan lagu itu dengan benar.
Dengan bakat luar biasa itu ia
kemudian pindah belajar pianonya ke Tooting Leisure Centre, di London. Bakatnya
makin terasah. Usia sembilan tahun ia sudah konser dengan diiringi big band Royal
Philharmonic Pops Orchestra di Barbican Hall, London. Sejak itu namanya dikenal
sebagai pemusik luar biasa. Ia telah main di depan ribuan orang dan kesempatan
yang berbeda. Ia main di hadapan orang-orang penting bahkan diundang khusus ke
kediaman Perdana Menteri Inggris untuk main piano. Ia tampil di berbagai acara
televisi. Ia juga mendapat berbagai penghargaan.
Kesuksesan yang diraih Derek
menunjukkan bahwa, di antara kekurangan yang dimiliki seseorang Tuhan pasti memberikan
kelebihan. Tinggal bagaimana kita menemukannya dan seperti apa mengasahnya agar
kelebihan itu jadi sempurna.