Rabu, 25 Juli 2012

Di Antara Kelemahan Terselip Kesempurnaan



Derek Paravicini yang lahir pada 26 Juli 1979 sungguh tak beruntung. Ia lahir sangat prematur, hanya 25 minggu dalam kandungan (umumnya manusia dikandung 36-40 minggu). Apa yang terjadi dengan kondisi seperti itu?
 
Karena lahir prematur ia harus ditolong dengan terapi oksigen melalui Neonatal Intensive Care Unit (NICU) sejak kelahirannya. Dokter di Royal Berkshire Hospital yang menanganinya agak pesimistis Derek akan berumur panjang. Dari catatan sejarah, bayi-bayi yang lahir prematur 14 minggu, selalu meninggal. Selain itu, dua kakak kembar Derek juga meninggal saat dilahirkan. Jadi peluang hidup Derek sebenarnya kecil.
Namun ternyata Derek bisa hidup meski tidak normal. Ketidaknormalan yang dialaminya adalah buta karena saat ditangani di NICU otaknya kekurangan oksigen. Ia juga mengalami kesulitan belajar yang parah. Selain itu ia juga autis.
Lalu apa yang terjadi kemudian? Orangtuanya menemukan bakat luar biasa dari Derek. Saat usianya dua tahun ia sudah tertarik pada piano. Ternyata ia bisa menangkap nada hanya dengan sekali dengar. Karena itu orangtuanya kemudian mendaftarkan dia untuk belajar piano dari pemain piano Adam Ockelford, London. Hari pertama saja sudah mengejutkan Adam. Ketika tiba di tempat les piano milik Adam, Derek langsung berlari mencari asal suara piano. Tentu saja orangtuanya harus membimbingnya karena ia buta. Begitu sampai di piano, ia bahkan menyingkirkan Adam dari depan piano untuk kemudian ia ambil-alih. Adam terkejut karena ia bisa menirukan nada-nada yang dimintanya.
derek
Mengajar piano pada orang buta tentu akan mengalami kesulitan tersendiri. Apalagi dengan kondisi seperti Derek. Derek tak bisa membaca huruf Braille dan mengalami kesulitan belajar yang parah. Tetapi ia ternyata salah satu dari sekian banyak orang yang mengidap autistic savant, yaitu sejenis autis yang kerap orang yang menderitanya memiliki kemampuan luar biasa di atas manusia normal. Kemampuan yang dimiliki Derek adalah mampu meniru nada dengan hanya sekali dengar. Karena itu ketika diperdengarkan satu lagu, ia bisa memainkan lagu itu dengan benar.
Dengan bakat luar biasa itu ia kemudian pindah belajar pianonya ke Tooting Leisure Centre, di London. Bakatnya makin terasah. Usia sembilan tahun ia sudah konser dengan diiringi big band Royal Philharmonic Pops Orchestra di Barbican Hall, London. Sejak itu namanya dikenal sebagai pemusik luar biasa. Ia telah main di depan ribuan orang dan kesempatan yang berbeda. Ia main di hadapan orang-orang penting bahkan diundang khusus ke kediaman Perdana Menteri Inggris untuk main piano. Ia tampil di berbagai acara televisi. Ia juga mendapat berbagai penghargaan.
Kesuksesan yang diraih Derek menunjukkan bahwa, di antara kekurangan yang dimiliki seseorang Tuhan pasti memberikan kelebihan. Tinggal bagaimana kita menemukannya dan seperti apa mengasahnya agar kelebihan itu jadi sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar